Senin, 09 November 2015

KUALITAS TIDUR DAN PENANGANAN GANGGUAN TIDUR PADA LANSIA



Kualitas  tidur  adalah  suatu  keadaan  di  mana  tidur  yang  dijalani  seorang  individu menghasilkan  kesegaran  dan  kebugaran  di  saat  terbangun.  Kualitas tidur yang mencakup  aspek  kuantitatif  dari  tidur,  seperti  durasi  tidur,  latensi  tidur  serta aspek subjektif. Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan, penyakit fisik, kelelahan, gaya hidup yang tidak baik, stress emosional, diet, merokok, dan medikasi. Perubahan  tidur  yang  mempengaruhi  kualitas  tidur  yang  berhubungan dengan proses penuaan pada seperti meningkatkan latensi tidur, efisiensi tidur berkurang, bangun lebih awal, mengurangi tahapan tidur nyenyak dan gangguan irama sirkardian, peningkatan tidur siang. Pola tidur lanjut usia sangat berbeda dengan orang dewasa maka perlu mendapatkan perhatian dari petugas kesehatan. perubahan kualitas tidur lansia umumnya kurang dapat menikmati tidur nyenyak daripada orang dewasa.
Menurut penelitian yang dilakukan di balai rehabilitasi sosial mandiri semarang sebanyak 68 responden atau sekitar 70,1 % mengeluh bahwa kualitas tidurnya sangat kurang dan terganggu. Hal ini karena lansia sering terbangun pada malam hari untuk pergi ke kamar mandi, merasa panas dan aktivitas masing – masing individu. Para lansia juga membutuhkan waktu untuk dapat jatuh tidur sekitar 10 – 15 menit. Selain itu suhu kamar yang terlalu dingin juga dapat mempengaruhi kualitas tidurnya sehingga lansia merasa dingin ataupun juga dengan suhu kamar yang terlalu panas sehingga tidurnya terganggu dan merasa tidak nyaman karena merasa sangat panas. Lansia juga mengeluh merasakan nyeri pada malam hari terutama mempunyai sakit fisik seperti rematik, asam urat, hipertensi, dll.
Perubahan kualitas tidur pada lansia dapat menyebabkan gangguan pola tidur. usia Lebih dari 80 % penduduk usia lanjut yang menderita penyakit fisik dan gangguan mental tersebut menderita gangguan tidur. Kelompok usia lanjut lebih mudah untuk terbangun dari tidurnya. Kebutuhan tidur akan berkurang dengan bertambahnya usia. Sebagian besar kelompok usia lanjut mengalami gangguan pola tidur sebagai akibat dari pensiun, perubahan lingkungan sosial, penggunaan obat – obatan yang meningkat, penyakit – penyakit, dan perubahan dari irama sirkardian. Berkurangnya tidur dapat berdampak pada pemulihan fungsi tidur. Deprivasi tidur pada usia lanjut berkaitan dengan keletihan, iritabilitas, fungsi kognitif yang terganggu, koordinasi yang kurang dan halusinasi. Gangguan tidur yang berat pada usia lanjut dibagi menjadi, Gangguan untuk memulai dan mempertahankan tidur, Gangguan mengantuk yang berlebihan, Gangguan siklus tidur, Perilaku tidur yang abnormal. Gambaran dari kualitas tidur pada lansia secara keseluruhan sangat buruk. Wanita  memiliki  kualitas tidur yang buruk disebabkan karena terjadi penurunan pada hormon progesteron
dan estrogen yang mempunyai reseptor di hipotalamus, sehingga memiliki andil pada  irama  sirkadian  dan  pola  tidur  secara  langsung.  Kondisi  psikologis, meningkatnya kecemasan, gelisah dan emosi sering tidak terkontrol pada wanita akibat  penurunan  hormon  estrogen  yang  bisa  menyebabkan  gangguan  tidur
            Evaluasi klinik terhadap pasien lansia dengan gangguan pola tidur memerlukan pemeriksaan yang komprehensif dan upaya terintegrasu dari semua tim pelayanan kesehatan. terapi untuk gangguan pola tidur pada lansia sebaiknya dilakukan secara konservatif dengan penekanan dan meminimalkan penanganan terhadap pasien. Konseling juga diperlukan untuk mewujudkan latihan higiene tidur.
            Selain itu upaya-upaya untuk  mempertahankan  kesehatan  lansia  baik yang  bersifat perawatan,  pengobatan,  pola hidup  sehat,  diantaranya  senam  lansia (Widianti & Proverawati, 2010). Senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah  dilakukan  dan  tidak  memberatkan, yang  dapat  diterapkan  pada  lansia.  Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh lansia agar tetap  bugar  dan  tetap  segar,  karena  senam lansia  ini  mampu  melatih  tulang  tetap  kuat, mendorong jantung bekerja secara optimal dan membantu  menghilangkan  radikal  bebas  yang berkeliaran didalam tubuh. Oleh karena itu senam lansia juga dapat memperbaiki gangguan pola tidur lansia yang terganggu.
            Masase punggung juga dapat membantu memperbaiki ganggual pola tidur lansia. Masase punggung atau sering  diistilahkan  effleurage  merupakan teknik  yang  sejak  dahulu  digunakan  dalam keperawatan  untuk  meningkatkan  relaksasi dan  istirahat.  Riset  menunjukkan  bahwa masase  punggung  memiliki  kemampuan  untuk menghasilkan  respon  relaksasi  (Gauthier,  1999 dalam  Berman,  2009)
 
DAFTAR PUSTAKA

1. LP Heny W, I Nyoman Sutresna, P Wira KP. PENGARUH MASASE PUNGGUNG TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DENGAN INSOMNIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR. Jurnal Dunia Kesehatan, volume 2 nomor 2. hal 39-43.

2. Kartiko Heri Cahyono. PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI DESA LEYANGAN KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG. jurnal keperawatan hal 1-11

3. Khusnul Khasanah, Wahyu Hidayati. Kualitas Tidur Lansia Balai Rehabilitasi Sosial “MANDIRI” Semarang. JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Halaman 189 – 196

4. Fransiska Sohat, Hendro Bidjuni, Vandri Kallo. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN INSOMNIA PADA LANSIA DI BALAI PENYANTUNAN LANJUT USIA SENJA CERAH PANIKI KECAMATAN MAPANGET MANADO. jural keperawatan hal 1-5

5. A. Prayitno. Gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut dan penatalaksanaannya. jurnal kesehatan Januari-April 2002, Vol.21 No.1


Senin, 19 Oktober 2015

sindrome nefrotik dan asuhan keperawatan sindrom nefrotik


A.    Pengertian
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).
Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria,  hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001).
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh:
Ø  Peningkatan protein dalam urin secara bermakna (proteinuria)
Ø  Penurunan albumin dalam darah
Ø  Edema
Ø  Serum cholesterol yang tinggi (hiperlipidemia)
Tanda – tanda tersebut dijumpai disetiap kondisi yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permiabilitas glomerulus (Sukiane, 2002).

B.     Etiologi
Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen – antibodi. Umumnya etiologi dibagi menjadi :
1.      Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.
2.                  Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh :
ü  Malaria kuartana atau parasit lainnya.
ü  Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid.
ü  Glumerulonefritis akut atau kronik,
ü  Trombosis vena renalis.
ü  Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa.
ü  Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.

3.      Sindrom nefrotik idiopatik
Tidak diketahui sebabnya atau disebut sindroma nefrotik primer. Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dgn pemeriksaan mikroskop biasa dan mikroskop elektron, Churk dkk membaginya menjadi :
a.       Kelainan minimal
Pada mikroskop elektron akan tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG pada dinding kapiler glomerulus.
b.      Nefropati membranosa
Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Prognosis kurang baik.
c.       Glomerulonefritis proliferatif
·         Glomerulonefritis proliferatif esudatif difus. Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkanan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat.
·         Dengan penebalan batang lobular.
Terdapat prolefirasi sel mesangial yang tersebar dan penebalan batang lobular.
·         Dengan bulan sabit ( crescent)
Didapatkan proliferasi sel mesangial dan proliferasi sel epitel sampai kapsular dan viseral. Prognosis buruk.
·         Glomerulonefritis membranoproliferatif
Proliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta-IA rendah. Prognosis buruk.
·         Lain-lain perubahan proliferasi yang tidak khas.
4.      Glomerulosklerosis fokal segmental
Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering disertai atrofi tubulus. Prognosis buruk.

C.    Patofisiologi
Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal ini menyebabkan retensi garam dan air.
Menurunnya tekanan osmotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut.
Hilangnya protein  dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng.
Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia.

D.    Manifestasi Klinik
Gejala utama yang ditemukan adalah :
Ø  Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak.
Ø  Hipoalbuminemia < 30 g/l.
Ø  Edema generalisata. Edema terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan  edema muka, ascxites dan efusi pleura.
Ø  Anorexia
Ø  Fatique
Ø  Nyeri abdomen
Ø  Berat badan meningkat
Ø  Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia.
Ø  Hiperkoagualabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri.

E.     Komplikasi
ü  Infeksi (akibat defisiensi respon imun)
ü  Tromboembolisme (terutama vena renal)
ü  Emboli pulmo
ü  Peningkatan terjadinya aterosklerosis
ü  Hypovolemia
ü  Hilangnya protein dalam urin
ü  Dehidrasi

F.     Pemeriksaan Diagnostik
v  Adanya tanda klinis pada anak
v  Riwayat infeksi saluran nafas atas
v  Analisa urin : meningkatnya protein dalam urin
v  Menurunnya serum protein
v  Biopsi ginjal
  
G.    Penatalaksanaan Terapeutik
o   Diit tinggi protein, diit rendah natrium jika edema berat
o   Pembatasan sodium jika anak hipertensi
o   Antibiotik untuk mencegah infeksi
o   Terapi diuretik sesuai program
o   Terapi albumin jika intake anak dan output urin kurang
o   Terapi prednison dgn dosis 2 mg/kg/hari sesuai program

A.    Pengkajian
1.      Keadaan umum :
2.      Riwayat :
*      Identitas anak: nama, usia, alamat, telp, tingkat pendidikan, dll.
*      Riwayat kesehatan yang lalu: pernahkah sebelumnya anak sakit seperti ini?
*      Riwayat kelahiran, tumbuh kembang, penyakit anak yang sering dialami, imunisasi, hospitalisasi sebelumnya, alergi dan pengobatan.
*      Pola kebiasaan sehari – hari : pola makan dan minum, pola kebersihan, pola istirahat tidur, aktivitas atau bermain, dan pola eliminasi.
3.      Riwayat penyakit saat ini:
v  Keluhan utama
v  Alasan masuk rumah sakit
v  Faktor pencetus
v  Lamanya sakit
4.      Pengkajian sistem
§  Pengkajian umum : TTV, BB, TB, lingkar kepala, lingkar dada (terkait dgn edema ).
§  Sistem kardiovaskuler : irama dan kualitas nadi, bunyi jantung, ada tidaknya cyanosis, diaphoresis.
§  Sistem pernafasan :  kaji pola bernafas, adakah wheezing atau ronki, retraksi dada, cuping hidung.
§  Sistem persarafan : tingkat kesadaran, tingkah laku ( mood, kemampuan intelektual,proses pikir ), sesuaikah dgn tumbang? Kaji pula fungsi sensori, fungsi pergerakan dan fungsi pupil.
§  Sistem gastrointestinal : auskultasi bising usus, palpasi adanya hepatomegali / splenomegali, adakah mual, muntah. Kaji kebiasaan buang air besar.
§  Sistem perkemihan : kaji frekuensi buang air kecil, warna dan jumlahnya.
5.      Pengkajian keluarga
ü  Anggota keluarga
ü  Pola komunikasi
ü  Pola interaksi
ü  Pendidikan dan pekerjaan
ü  Kebudayaan dan keyakinan
ü  Fungsi keluarga dan hubungan


B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan integritas kulit b/d edema dan menurunnya sirkulasi.
2.      Resiko infeksi b/d terapi immunosuppresivedan hilangnya gama globulin.
3.      Resiko kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek diuretik.
4.      Resiko kelebihan volume cairan b/d retensi sodium dan air.
5.      Kecemasan pada anak dan keluarga b/d hospitalisasi pada anak.

C.    Intervensi Keperawatan
  1. Gangguan integritas kulit b/d edema dan menurunnya sirkulasi.
a.       Tujuan : integritas kulit terjaga.
b.      KH : Tidak ada tanda kemerahan, lecet dan tidak terjadi tenderness bila disentuh.
c.       Intervensi :
Ø  Mengatur atau merubah posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi.
Ø  Pertahankan kebersihan tubuh anak setiap hari dan pengalas tempat tidur.
Ø  Gunakan lotion bila kulit kering.
Ø  Kaji area kulit : kemerahan, tenderness dan lecet.
Ø  Support daerah yang edema dengan bantal.
Ø  Lakukan aktifitas fisik sesuai dengan kondisi anak.
2.      Resiko infeksi b/d terapi imunosuppresive dan hilangnya gama globulin.
a.       Tujuan : tidak terjadi infeksi
b.      Kriteria hasil :
·         Hasil laborat ( leukosit ) dbn
·         Tanda- tanda vital stabil
·         Tidak ada tanda – tanda infeksi
c.       Intervensi :
Ø  Mencuci tangan setiap akan kontak dengan anak
Ø  Kaji tanda – tanda infeksi
Ø  Monitor tanda – tanda vital
Ø  Monitor pemeriksaan laboratorium
Ø  Kolaborasi medis untuk pemberian antibiotik
  1. Resiko kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek diuretik
a.       Tujuan : cairan tubuh seimbang
b.      Kriteria hasil :
·         Mukosa mulut lembab
·         Tanda vital stabil
c.       Intervensi :
Ø  Monitor intake dan output ( pada anak < 1ml/kg/jam)
Ø  Monitor tanda-tanda vital
Ø  Monitor pemeriksaan laboratorium (elektrolit)
Ø  Kaji membran mukosa mulut dan elastisitas turgor kulit
Ø  Kaji pengisian kembali kapiler (capilarry Refill)
  1. Resiko kelebihan cairan b/d retensio sodium dan air
a.       Tujuan : Volume cairan tubuh seimbang
b.      Kriteria hasil :
·         BB stabil
·         Tanda vital dbn
·         Tidak ada edema
c.   Intervensi :
Ø  Monitor intake dan output, dan timbang BB setiap hari
Ø  Monitor tekanan darah
Ø  Mengkaji status pernafasan termasuk bunyi nafas
Ø  Pemberian deuretik sesuai program
Ø  Ukur dan catat ukuran lilitan abdomen
5.      Kecemasan pada anak atau keluarga b/d hospitalisasi pada anak
a.       Tujuan : kecemasan hilang
b.      Kriterai hasil :
·         Orang tua tampak lebih santai
·         Orang tua berpartisipasi dalam perawatan dan memahami kondisi anak
c.       Intervensi :
Ø  Anjurkan orang tua dan anak untuk mengekspresikan rasa takut dan cemas
Ø  Berikan penjelasan tentang penyakit Sindrom Nefrotik, perawatan dan pengobatannya
Ø  Ajarkan pada orang tua untuk membantu perawatan pada anaknya
Ø  Berikan aktivitas bermain yang sesuai dgn tumbang anak dan kondisinya.



DAFTAR PUSTAKA


Suryadi dan Yuliani, Rita. 2001. Praktek klinik Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC.

Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, Jilid 1. Media Aesculapius.






 

Keperawatan Template by Ipietoon Cute Blog Design