Kualitas tidur adalah
suatu keadaan di
mana tidur yang
dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran
dan kebugaran di
saat terbangun. Kualitas tidur yang mencakup aspek
kuantitatif dari tidur,
seperti durasi tidur,
latensi tidur serta aspek subjektif.
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan,
penyakit fisik, kelelahan, gaya hidup yang tidak baik, stress emosional, diet,
merokok, dan medikasi. Perubahan
tidur yang mempengaruhi
kualitas tidur yang
berhubungan dengan proses
penuaan pada seperti meningkatkan latensi tidur, efisiensi tidur berkurang,
bangun lebih awal, mengurangi tahapan tidur nyenyak dan gangguan irama
sirkardian, peningkatan tidur siang. Pola tidur lanjut usia sangat berbeda
dengan orang dewasa maka perlu mendapatkan perhatian dari petugas kesehatan.
perubahan kualitas tidur lansia umumnya kurang dapat menikmati tidur nyenyak
daripada orang dewasa.
Menurut penelitian yang dilakukan di balai rehabilitasi sosial mandiri
semarang sebanyak 68 responden atau sekitar 70,1 % mengeluh bahwa kualitas
tidurnya sangat kurang dan terganggu. Hal ini karena lansia sering terbangun
pada malam hari untuk pergi ke kamar mandi, merasa panas dan aktivitas masing –
masing individu. Para lansia juga membutuhkan waktu untuk dapat jatuh tidur
sekitar 10 – 15 menit. Selain itu suhu kamar yang terlalu dingin juga dapat
mempengaruhi kualitas tidurnya sehingga lansia merasa dingin ataupun juga
dengan suhu kamar yang terlalu panas sehingga tidurnya terganggu dan merasa
tidak nyaman karena merasa sangat panas. Lansia juga mengeluh merasakan nyeri
pada malam hari terutama mempunyai sakit fisik seperti rematik, asam urat,
hipertensi, dll.
Perubahan kualitas tidur pada lansia dapat menyebabkan gangguan pola
tidur. usia Lebih dari 80 % penduduk usia lanjut yang menderita penyakit fisik
dan gangguan mental tersebut menderita gangguan tidur. Kelompok usia lanjut lebih
mudah untuk terbangun dari tidurnya. Kebutuhan tidur akan berkurang dengan
bertambahnya usia. Sebagian besar kelompok usia lanjut mengalami gangguan pola
tidur sebagai akibat dari pensiun, perubahan lingkungan sosial, penggunaan obat
– obatan yang meningkat, penyakit – penyakit, dan perubahan dari irama
sirkardian. Berkurangnya tidur dapat berdampak pada pemulihan fungsi tidur.
Deprivasi tidur pada usia lanjut berkaitan dengan keletihan, iritabilitas,
fungsi kognitif yang terganggu, koordinasi yang kurang dan halusinasi. Gangguan
tidur yang berat pada usia lanjut dibagi menjadi, Gangguan untuk memulai dan mempertahankan tidur, Gangguan mengantuk yang berlebihan, Gangguan siklus tidur, Perilaku tidur yang abnormal. Gambaran dari
kualitas tidur pada lansia secara keseluruhan sangat buruk. Wanita memiliki
kualitas tidur yang buruk disebabkan karena terjadi penurunan pada
hormon progesteron
dan estrogen
yang mempunyai reseptor di hipotalamus, sehingga memiliki andil pada irama
sirkadian dan pola
tidur secara langsung.
Kondisi psikologis, meningkatnya
kecemasan, gelisah dan emosi sering tidak terkontrol pada wanita akibat penurunan
hormon estrogen yang
bisa menyebabkan gangguan
tidur
Evaluasi klinik terhadap pasien
lansia dengan gangguan pola tidur memerlukan pemeriksaan yang komprehensif dan
upaya terintegrasu dari semua tim pelayanan kesehatan. terapi untuk gangguan
pola tidur pada lansia sebaiknya dilakukan secara konservatif dengan penekanan
dan meminimalkan penanganan terhadap pasien. Konseling juga diperlukan untuk
mewujudkan latihan higiene tidur.
Selain itu upaya-upaya untuk mempertahankan kesehatan
lansia baik yang bersifat perawatan, pengobatan,
pola hidup sehat, diantaranya
senam lansia (Widianti &
Proverawati, 2010). Senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan
dan tidak memberatkan, yang dapat
diterapkan pada lansia.
Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh lansia agar tetap bugar
dan tetap segar,
karena senam lansia ini
mampu melatih tulang
tetap kuat, mendorong jantung
bekerja secara optimal dan membantu
menghilangkan radikal bebas
yang berkeliaran didalam tubuh. Oleh karena itu senam lansia juga dapat
memperbaiki gangguan pola tidur lansia yang terganggu.
Masase punggung juga dapat membantu
memperbaiki ganggual pola tidur lansia. Masase punggung atau sering diistilahkan
effleurage merupakan teknik yang
sejak dahulu digunakan
dalam keperawatan untuk meningkatkan
relaksasi dan istirahat. Riset
menunjukkan bahwa masase punggung
memiliki kemampuan untuk menghasilkan respon
relaksasi (Gauthier, 1999 dalam
Berman, 2009)
DAFTAR PUSTAKA
1. LP Heny W, I Nyoman Sutresna, P Wira KP. PENGARUH MASASE PUNGGUNG TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DENGAN INSOMNIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR. Jurnal Dunia Kesehatan, volume 2 nomor 2. hal 39-43.
2. Kartiko Heri Cahyono. PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI DESA LEYANGAN KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG. jurnal keperawatan hal 1-11
3. Khusnul Khasanah, Wahyu Hidayati. Kualitas Tidur Lansia Balai Rehabilitasi Sosial “MANDIRI” Semarang. JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Halaman 189 – 196
4. Fransiska Sohat, Hendro Bidjuni, Vandri Kallo. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN INSOMNIA PADA LANSIA DI BALAI PENYANTUNAN LANJUT USIA SENJA CERAH PANIKI KECAMATAN MAPANGET MANADO. jural keperawatan hal 1-5
5. A. Prayitno. Gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut dan penatalaksanaannya. jurnal kesehatan Januari-April 2002, Vol.21 No.1

0 komentar:
Posting Komentar